Mengapa Pengguna Narkoba Kecanduan

  • Whatsapp
Pengguna Narkoba Kecanduan

Bermula hanya coba-coba, tidak sedikit orang yang lalu susah meninggalkan perangkap narkoba. Fakta itu tak cuma menimpa orang dewasa, namun juga pelajar. Begitu kecanduan, berbagai perbuatan negatif pun dilakukan. Terlepas dari efek narkoba benar-benar tak gampang. Ganja, sabu, ekstasi dan heroin dikonsumsi karena beragam sebab. Kecuali karena rasa penasaran, ada juga yang ikut-ikutan teman atau sebagai pelarian.

Sebetulnya, beberapa jenis narkotika adalah termasuk dalam obat-obatan medis yang difungsikan untuk keperluan pengobatan. Misalnya sebagai obat penenang, anti depresan, anti nyeri dan juga obat bius. Meski begitu, untuk keperluan pengobatan, pemakaian jenis obat tersebut sangatlah ketat sesuai gejala, dosis, serta frekuensi yang terkontrol. Di samping itu pengawasan yang dilakukan pun ketat agar tak mengakibatkan ketergantungan.

Efek ketergantungan ini membuat wajah pemakai sabu semakin terlihat dan jelas, terutama bagi mereka yang sudah kecanduan akut ketergantungan obat-obatan.

Pada prinsipnya, siapa pun dapat terkena kecanduan narkotika. Namun, potensi terjadi penyalahgunaan narkoba itu berbeda-beda antara satu individu dengan individu lain. Diketahui sejumlah sebab yang mempengaruhi orang lebih mudah terjerat penggunaan narkotika, seperti : asal usul keluarga yang juga kecanduan narkoba, riwayat menderita abuse atau tak memperoleh perhatian keluarga, gangguan psikologis misalnya frustrasi dan depresi, pernah menggunakan narkoba, dan lingkungan pergaulan yang negatif.

Mengapa Kecanduan bisa Dialami

Ditemukan berbagai macam narkotika. Misalnya kelompok depresan, stimulan, dan halusinogen. Tiap-tiap jenis narkotika itu menghasilkan gejala berbeda ke otak maupun tubuh. Narkotika kategori stimulan biasanya akan membuat tubuh terasa segar, penuh energi, dan tak gampang mengantuk atau letih. Untuk kelompok depresan akan mengakibatkan pengguna tenang serta mengantuk. Sedangkan kategori halusinogen akan mengakibatkan pengguna mengalami halusinasi. Hanya saja, sensasi itu cuma temporer.

Narkotika memiliki kandungan zat kimia yang bisa membentuk ikatan ke reseptor yang terdapat di otak serta tubuh. Ikatan dari zat aktif narkotika dengan reseptor dalam otak akan mengakibatkan otak menghasilkan zat khusus yaitu neurotransmitter yang akan menyebabkan efek ketergantungan dari jenis narkotika itu. Karena pemakaian narkotika yang berulang-ulang maka konsentrasi reseptor zat narkoba di tubuh pun makin menumpuk. Dampaknya, pengguna pun merasakan keinginan agar bisa mengkonsumsi narkoba lagi begitu efeknya hilang.

Tak cuma itu, lama kelamaan tubuh akan terjadi peningkatan toleransi takaran narkoba yang digunakan. Sebab itu, agar bisa memperoleh efek sebagaimana sebelumnya maka pengguna narkoba memerlukan takaran narkoba lebih banyak. Bilamana tak tercukupi maka tubuh pun langsung menghasilkan gejala kebalikan yang mengakibatkan pengguna menderita sensasi tubuh yang tidak nyaman. Kejadian tersebut lah yang mengakibatkan orang yang kecanduan akan cukup sulit dalam melepaskan diri dari narkotika. Orang yang telah menderita kecanduan narkoba tak bisa mengakhiri mengonsumsinya begitu saja.

Dibutuhkan rangkaian rehabilitasi menggunakan cara tepat yang ditangani para tenaga medis profesional supaya pecandu secara berangsur-angsur bisa bebas dari narkoba. Termasuk yang juga penting yaitu pembinaan kejiwaan dan rohani supaya pecandu tak lagi terjerumus dalam lubang yang sama.

Bila punya persoalan yang mengakibatkan depresi, stres, atau kegelisahan, ada baiknya pecandu menghubungi psikolog atau psikiater. Tidak usah coba-coba dengan narkotika sebab efek kecanduannya yang benar-benar merugikan. Di samping itu, para mantan pengguna pun harus menjauhi berinteraksi dengan mereka yang masih memakai narkoba.

Selaku orang tua, mereka pun harus terus memantau pergaulan anak-anak mereka. Para orangtua  harus menjadi orang yang asyik untuk anak-anak mereka dalam mencurahkan isi hati. Para orangtua pun bisa mengarahkan anak-anak mereka mengisi waktu dengan aktivitas positif misalnya olahraga atau melatih bakatnya.

Related posts